Menulis Itu Menyenangkan!!!
Menulislah. Sebab ketika kamu mati nanti, karyamu akan tetap abadi.
Menulis itu menyenangkan? Kok bisa?
Pertanyaan kecil yang sering terlontar adalah sebaliknya. Katanya menulis itu susah. Kita harus mendapatkan ide yang berbeda dari orang lain, lalu mengembangkannya menjadi sebuah cerita yang dalam tahap penulisannya pun juga butuh kalimat yang harus dirangkai sedemikian rupa agar menarik pembaca. Terlebih ketika mood sedang tidak baik.
Jangankan menulis satu cerita pendek, satu paragraf bahkan sepotong kalimat pun sulit sekali. Yang lebih parah, untuk membuka laptop atau Microsoft Word di gawai pun rasanya enggan.
Nah, jika begitu, mari kembali ke pertanyaan awal sehubungan dengan menulis, yaitu ‘Kenapa kamu menulis?’
Ada banyak alasan kenapa orang-orang menulis. Mungkin saja ia ingin berbagi tentang apa yang dialami atau dirasakannya kepada orang lain, melalui sebuah cerita pendek, puisi, novel, atau sekadar kalimat panjang yang ditulisnya di linimasa. Atau karena ia ingin menginspirasi orang lain dengan tulisannya. Ingin menjadikan tulisannya sebagai ladang amal, atau karena ia ingin nama dan karyanya abadi ketika ia mati nanti.
Sah-sah saja, bukan? Kamu pasti juga memiliki alasan tersendiri kenapa menulis. Namun, kembali pada hatimu. Menulislah karena kamu suka, dengan begitu kamu akan menikmati apa yang kamu tulis tanpa adanya sebuah tekanan.
Ada banyak di antara kita merasa menulis itu beban. Sebab, terlalu memikirkan hal-hal yang sebenarnya tidak harus dipikirkan. Semisal, ‘Apakah tulisanku ini bagus?’ atau ‘Apakah akan membuat pembaca tertarik untuk membacanya?’ atau ‘Apakah dapat menginspirasi?’. Jika kamu terus-terusan berpikir seperti itu dan berlama-lama di depan layar laptop karena dilema, lalu kapan menulisnya?
Sejatinya, tulis saja apa yang terlintas di dalam pikiranmu saat itu. Hal paling sederhana adalah menulis kejadian yang kamu alami, pengalaman pribadi. Atau jika mau, kamu bisa menuliskan sesuatu yang ingin kamu capai di masa depan, menuangkannya ke dalam sebuah cerpen dengan sedikit harapan bahwa apa yang kamu tulis saat ini akan menjadi kenyataan di masa mendatang. Siapa tahu saja, bukan?
Jangan pikirkan bagus atau tidaknya tulisanmu, yang penting menulis saja dulu. Sebab salah satu kebahagiaan tersendiri seorang penulis adalah menyelesaikan naskahnya. Soal apakah tulisanmu akan disukai atau tidak, atau akan dikirtik habis atau malah mendapat pujian, anggap saja itu sebuah nilai lebih. Dari sana, kamu bisa belajar lebih banyak hal. Bukankah kritik membangun dari orang-orang sangat diperlukan dalam melatih kemampuan menulis? Bukankah pula ketika tulisanmu dibaca oleh orang lain membuat hatimu senang?
Nah, jadi menulislah. Jika kamu belum merasakan bahwa menulis itu menyenangkan, mungkin kamu butuh beberapa asupan otak. Beberapa di antaranya adalah:
Pertama, dengan menulis hati kamu yang semulanya amburadul, kusut seperti benang rajut yang dimainkan kucingmu, tiba-tiba menjadi lebih baik. Pikiranmu yang semrawut, rasanya menjadi lebih tenang, dan entah bagaimana kamu menjadi bahagia.
Kedua, dengan menulis kamu juga bisa membuat orang lain terbawa perasaan. Lebih-lebih seorang wanita yang suka sekali dengan cerita-cerita berbau romansa, dan itu bisa menjadi hal yang kamu banggakan dari tulisanmu.
Ketiga, ada beberapa orang yang sebenarnya tidak sabar menunggu tulisanmu. Mungkin kamu tidak tahu, tetapi percayalah setidaknya ada satu atau dua orang yang benar-benar mengagumi tulisanmu.
Keempat, dengan kamu menulis, kamu bisa mendapatkan teman baru, ilmu baru, juga pengalaman. Maka, tulis ceritamu dan publikasikan. Soal ketenaran itu nomor kesekian.
Kelima, anggap ini yang terakhir. Dengan menulis, menyuarakan isi hatimu, kamu bisa membuat orang-orang jatuh cinta. Terlebih orang yang kamu sukai. Di zaman sekarang, tulisan yang tulus akan kalah dengan setangkai mawar merah. Dengan catatan; jangan memikat jika tidak siap mengikat. Nah lho!
Setelah sampai sini, masih kurang merasa bahwa menulis itu menyenangkan? Jika tidak, maka menulislah.
Kebetulan sekali, Bengkulu tengah mengadakan Festival Sastra Bengkulu (FSB) yang mengundang penulis Indonesia dan luar negeri, dan tentunya penulis muda Bengkulu untuk mengikuti Bengkulu Write’s Festival (BWF) pada September nanti. Kesempatan yang bagus, bukan?
Tunggu apa lagi? Buka laptopmu atau aplikasi Microsoft Word di gawaimu sekarang dan menulislah.
Ingat, menulis itu benar-benar menyenangkan, lho. Jika kamu mengatakan ada banyak kendala dalam menulis, percayalah itu hanya perasaanmu semata. Sebab, tidak ada kendala apa pun dalam menulis, hanya kemalasan yang berakhir pada alasan-alasan sepele.
Tips Menulis
Berbagi itu menyenangkan. Terlebih berbagi ilmu. Hati menjadi lebih bahagia ketika tahu ilmu yang dibagi itu bisa berguna bagi orang lain.
Berikut sedikit tips menulis yang menyenangkan:
1. Pastikan hati kamu baik-baik saja. Hati dan pikiran yang tenang adalah sebuah kombinasi untuk melahirkan karya yang menarik. Akan tetapi, ada juga sebagian orang yang menulis ketika hati dan pikiran mereka terganggu karena suatu masalah. Tidak apa, setiap orang memiliki perbedaan.
2. Menulislah di tempat yang tenang atau di tempat yang membuat kalian merasa nyaman. Misalnya di kamar, di taman belakang rumah, di kafe, atau di rumah pohon.
3. Selalu taruh catatan kecil yang berisi kata penyemangat di atas buku kalian atau di pinggir layar laptop. Dengan begitu kalian akan merasa termotivasi. Biasanya sebuah kutipan kecil dari penulis ternama menjadi pilihan beberapa orang.
4. Kamu bisa menghidupkan musik klasik atau musik dengan nada-nada yang menenangkan hati. Untuk yang ini, mungkin tergantung selera musik masing-masing. Namun saran saya, pilihlah musik klasik.
5. Menulislah setiap hari. Entah itu hanya satu lembar atau satu paragraf. Tidak masalah, yang penting menulis.
6. Munculkan perasaan bersalah jika kamu tidak menulis satu hari. Buat aturan khusus yang membuatmu lebih belajar disiplin.
7. Terakhir, silakan menulis. Tulis apa saja yang ada di kepalamu.
***
Aiyu A Gaara, Penulis Asal Bumi Rafflesia
