Menyongsong Society 5.0
Sejak dicetuskan pada 2011, implementasi Revolusi Industri 4.0 terus berkembang pesat. Pada era ini peran teknologi semakin mendominasi. Disisi lain peran manusia semakin tergerus. Meningkatnya angka pengangguran menjadi satu dari sekian banyak dampak buruk yang akan terjadi.
Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe, mencetuskan Society 5.0 sebagai solusi. Disini, manusia ditempatkan sebagai aktor utama. Teknologi adalah sarana yang digunakan untuk mencapai kesejahteraan. Nantinya setiap penduduk dapat hidup aktif dan nyaman melalui layanan berkualitas tinggi tanpa memandang perbedaan. Tentunya harapan tersebut tidak serta merta diperoleh. Setiap daerah perlu mempersiapkannya, termasuk Provinsi Bengkulu.
Hal utama yang perlu dipersiapkan adalah teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Sasaran penting yang harus dilihat ialah bagaimana kesiapan infrastruktur, bagaimana tingkat penggunaan TIK pada masyarakat dan bagaimana hasil efisiensi dan efektivitas penggunaannya. Pencapaian poin-poin tersebut tercermin dari Indeks Pembangunan TIK (IP-TIK) yang dirilis BPS.
Tercatat di tahun 2019, IP-TIK Provinsi Bengkulu mencapai 5,20, sehingga menempatkan provinsi ini masuk dalam kategori IP-TIK sedang bersama 21 provinsi lainnya. Hasil tersebut menggembirakan, karena ditahun sebelumnya nilai IP-TIK Bengkulu berada pada kategori rendah. Patut diapresiasi pencapaian ini karena menunjukkan pembangunan TIK di Bengkulu semakin pesat. Namun bila menyelisik hingga tingkatan individu, penetrasi internet baru mencapai 40,72 persen. Artinya lebih dari separuh penduduk Bengkulu belum menggunakan internet. Salah satu penyebabnya adalah akses internet yang belum merata hingga kepelosok.
Selain TIK, sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas juga harus dipersiapkan. Untuk mengukurnya, dapat dilihat dari 3 aspek, yaitu kesehatan, pendidikan dan ekonomi. Semuanya ini terpotret dari Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang juga dirilis BPS. Pada tahun 2020, nilai IPM Bengkulu masuk dalam kategori tinggi dan menempati peringkat 18 dari seluruh provinsi di Indonesia. Pertumbuhan IPM Bengkulu juga mencapai 0,27 persen, jauh lebih baik dari pertumbuhan IPM nasional yang hanya sebesar 0,03 persen. Bahkan persentase pertumbuhan tersebut merupakan yang terbesar di Pulau Sumatera.
Akan tetapi jika melihat capaian IPM menurut kabupaten/kota, terlihat masih adanya variasi. Terdapat 7 kabupaten yang masuk dalam kategori IPM sedang, 2 kabupaten dalam kategori tinggi dan Kota Bengkulu masuk dalam kategori sangat tinggi. Dari sisi pertumbuhannya, persentase tertinggi sebesar 0,74 persen dan terendah 0,01 persen. Terdapatnya variasi menunjukkan masih adanya kesenjangan pencapaian pembangunan manusia antar wilayah.
Secara umum bekal yang dimiliki Bengkulu untuk menyongsong Society 5.0 sudah cukup baik. Memang masih terdapat pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Kebijakan untuk melibatkan peran swasta ataupun bantuan subsidi untuk mengatasi permasalahan akses internet yang belum merata layak dipertimbangkan. Pemerintah daerah juga harus menjamin pemerataan pembangunan dari sisi kesehatan, pendidikan dan ekonomi antar wilayah. Target ini penting untuk mempersiapkan SDM yang produktif dan berkualitas, terlebih Bengkulu yang sedang menuju bonus demografi.
Penulis: Yosep Oktavianus Sitohang, ASN BPS Provinsi Bengkulu
